Semuanya semu,
Sulit terpikir oleh otakku yang dangkal.
Samar-samar ku lihat perlakuanmu sungguh tak menentu,
Membuatku bingung, Membuatku sakit,
Membuatku selalu ingin tau yang sebenarnya kau rasakan.
Aku merindumu setiap saat,
Aku mencintamu setiap waktu,
Aku memikirkanmu dalam heningnya malam,
Aku menunggumu hingga detik ini.
Setiap hari Ku terka apa yang sedang kau rasakan,
Bergembirakah? #semoga selalu
Bersedihkah? #jangan biarkan ia merasakannya ya Allah
Membayangkan apa yang sedang kau lakukan,
Waktu kamu lagi tidur?
Ingin rasanya membelai rambutmu dan mecium kening dan pipimu.
Waktu kamu lagi senyum?
Tak ingin rasanya aku melewatkan pemandangan itu.
Waktu kamu lagi tertawa bareng temen-temen kamu?
Tak akan ku alihkan pandangan mataku ke sudut manapun.
Ya Allah, dia segalanya bagiku.
Dia pangeran dunia akhiratku.
Dia malaikat kecil yang kau kirim untuk membuatku bahagia.
Jaga dia, lindungi dia, berikan dia kebahagiaan selalu.
Detik ini, puncak rasa rinduku.
Tangisku … bukan karena sedih, namun karena kerinduanku.
Ingin rasanya menggenggam tangannya,
Memeluk hangat tubuhnya.
Mencium paras tampan sang pangeranku.
Hujan mengguyur Jakarta,
Rinduku semakin memuncak,
Membuat dadaku teramat sesak menahan tangis,
Mengharap perlakuan manjamu muncul hari ini,
Sekedar menelpon atau mengirim sms,
Tuhan, apakah harapanku terlalu berlebihan?
Membuatnya merasa terbebani dengan segala sikapku?
Membuatnya merasa terganggu dengan ulahku?
Aku hanya mengharap sebuah perhatian.
Haanya itu. Cukup itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar